Partai Golkar Menjadi Pikun, Terlalu Lama Tak Berkuasa

Posted on

Manusia yang berada pada usia lanjut sering dihinggapi penyakit pikun. Istilah kerennya “demensia” (dementia). Di kalangan masyarakat Melayu, demensia disebut “jawal” (sayang sekali kata ini tidak tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI).

Ada beberapa catatan. Pertama, pikun adalah sifat manusia yang tidak lagi mengikuti teori-teori normal tentang kemanusiawian. Kedua, pikun adalah “anugerah” dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang , konon kata orang-orang bijak, pada masa mudanya terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia. Ketiga, pikun itu sangat mudah memancing reaksi yang tak sabar dari orang sekitar.

Sekarang ini, pikun tidak hanya melanda manusia. Gangguan menakutkan yang sifatnya neurologis ini, sudah bermutasi ke lembaga atau organisasi politik. Partai Golkar tampaknya yang pertama tertular. Beberapa parpol lain juga memperlihatkan kepikunan. Kali ini, kita fokus mengamati “kejawalan” Golkar.

Sebagaimana kepikunan yang diperlihakan oleh manusia, kepikunan Golkar dalam berpolitik pun memamerkan perilaku yang aneh-aneh. Sering membuat orang jengkel, termasuk kader-kader reformis partai itu sendiri. Mereka ini sudah tak sabar untuk mengobati kepikunan “orangtua” mereka.

Orang jawal antara lain berperilaku suka mengacak-acak, mohon maaf, kotorannya sendiri. Dia buang air kecil atau b.a.b. entah di mana-mana. Bicaranya melantur. Sering mengulang omongan sendiri. Sangat lumrah kehilangan arah. Kalau disuruh melakukan ini, dia akan melakukan itu.

Di Golkar, kepikunan itu sangat menarik untuk dicermati. Ketika orang normal berpendapat bahwa partai ini pantas menjadi teladan dalam beroposisi, ketua umumnya, Setya Novanto, malah mendukung pemerintah. Dengan motif yang sangat personal (personal mission).

Ketika rakyat menunggu-nunggu sikap kritis Golkar terhadap pemeritah Jokowi, Golkar malah datang menjilat-jilat penguasa. Bahkan, menaduhului PDIP dalam mencapreskan Jokowi untuk Pemilu 2019.

Ketika orang normal menebak bahwa Novanto akan disingkirkan dari posisi ketua umum karena terindikasi terlibat skandal e-KTP, tahu-tahu para senior di partai ini mati-matian mempertahankan politisi “segala cara” ini. Ketika Pak Ketua dijadikan tersangka oleh KPK, para petinggi Golkar masih berkilah macam-macam untuk menyelamatkan Novanto.

Ketika GMPG meluncurkan “Gerakan Golkar Bersih”, tiba-tiba muncul Sekjen Idrus Marham yang mempertanyakan kriteria bersih dan tak bersih. Artinya, Pak Sekjen juga tertular kejawalan sehingga tidak tahu lagi membedakan apa itu bersih dan apa itu kotor. Harus bertanya kepada orang lain. Seperti orang pikun.

Dan, sewaktu GMPG mengusulkan Musyawarah Nasional Luarbiasa (Munaslub) untuk mengganti Novanto, lagi-lagi Pak Idrus keluar dengan jawaban yang bertentangan dengan aspirasi orang yang berpikiran normal. “Tidak ada Munaslub,” kata beliau.

Dalam ukuran kewarasan berpolitik di mana pun juga, status tersangka seharusnya menumbuhkan kesadaran Novanto untuk segera melepaskan jabatan. Tetapi, dia malah melawan semua konvensi dan standar yang umum. Seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Tidak lagi ada rasa malu. Dan juag tidak memberikan keteladanan.

Keanehan demi keanehan dipertontonkan oleh pimpinan Golkar. Tidak ditemukan terminolgi lain untuk memahami berbagai perilaku aneh itu, kecuali kepikunan, kejawalan, atau demensia.

Celakanya, kepikunan Golkar tidak hanya “membahayakan” dirinya sendiri. Lingkungan sekitarnya ikut mengalami kerusakan suasana. Misalnya, para politisi generasi muda di Partai Beringin menjadi frustrasi dan “rebellious”, alias terasa mau berontak. Selain itu, kesimbangan politik dan standar perilaku politik juga ikut terkontaminasi.

Di atas semua itu, kepikunan atau kejawalan Golkar akan berdampak terhadap pendidikan politik secara umum. Sebagai contoh, “sikap degil” Novanto dan para pendukung setianya bisa menjadi panutan para politisi muda, baik itu di tubuh Golkar maupun di parpol-parpol lain.

Orang dulu mengatakan, murid akan selalu lebih maju dalam mencontoh guru. Murid akan kencing berlari, setelah melihat gurunya kencing berdiri.

Boleh jadi para pemimpin Golkar menjadi pikun karena sudah terlalu lama tak berkuasa.

Oleh Asyari Usman (Wartawan Senior)
Sumber: Teropong Senayan

Silahkan Berkomentar